Wednesday, December 28, 2022

Biarlah rinduku Kumau kabarmu Dan Sunyilah akhirnya wakilmu lalu engkaulah ahlinya bagiku

 Gue kini percaya bahwa kalimat “Maaf, Aku enggak mau, enggak boleh pacaran dulu…” adalah sebuah kalimat yang tidak lengkap. Sebenarnya, kalimat itu berkata “Maaf, Aku enggak mau, enggak boleh pacaran dulu… sama kamu.”

Ini adalah sebuah cerita tentang patah hati yang berulang. Cerita ini tentang dua dari sekian perempuan yang pernah gue cintai sepenuhnya, ini tentang Joni dan Lia. 

Tulisan tentang Joni bisa dibaca di sini : 

God I Loved Her

365/365, A PLACE CALLED HOME.

Corat - Coret Akatsuki



dan lain - lain.

Tulisan tentang Lia memang tidak ada, bukan, bukan karena gue enggak pernah menulis tentang Lia, namun karena Lia tidak ingin tulisan tulisan sebelumnya dipublikasikan. Tapi karena gue adalah penulis yang baik, akan gue sederhanakan tentang kedua perempuan tersebut.

Joni

Joni adalah seorang wanita cantik (bukan pria) yang datang di hidup gue sebagai murid pindahan saat kenaikan kelas 8 SMP, sekitar tahun 2015. Joni, adalah wanita tercantik satu jagad SMP pada saat itu. Joni adalah perempuan yang selalu memastikan bahwa gue mendapatkan hadiah di hari ulang tahun, Joni adalah perempuan yang memastikan gue tidur yang cukup sebelum pertandingan basket. Kulit Joni putih, berambut panjang, handal bermain piano, bersuara merdu, dan wajah kirinya terdapat tato melingkari matanya serta pernah tercatat menggigit telinga salah satu petinju dunia hingga putus. (Maaf, kayaknya gue kecampur antara Joni dan Mike Tyson deh).

Lia

Lia adalah seorang perempuan yang cantik, putih, rambutnya jatuh lemas sebahu, berkacamata, wangi parfum seharga tiga juta. Adalah seseorang yang gue temui di masa gue kuliah, sekitar 2020. Kelahiran Jawa Tengah namun tumbuh dan besar di Jawa Timur. Pintar, suka Es Teh Leci dan semua menu Sec Bowl yang dimakan secara rutin sambil nonton series netflix di pagi hari atau malam sebelum tidur. Lia adalah wanita yang mampu banyak hal, salah satunya adalah menentukan outfit yang baik setiap harinya, pernah sempat sekali, Lia memberikan saran gaya fashion untuk gue. “Kamu harus beli baju Uniqlo Airism warna biru dongker”. Tanpa banyak basa - basi, gue percayakan penampilan gue pada sarannya Lia – Mungkin, mungkin kegantengan gue bertambah 15 persen – namun akibat baju itu gue harus puasa hampir dua hari. Sebuah transaksi yang tidak seberapa menguntungkan.


Sederhananya, Joni dan Lia adalah dua wanita yang pernah sangat gue cintai dalam dua waktu yang berbeda. Selalu asyik berbicara dengan mereka berdua. Pernah suatu saat waktu itu Sore - Sore ketika gue menemani Joni untuk menunggu jemputan sekolah, kita ngobrol tentang banyak hal, saking asiknya, ketika Joni dijemput tiba - tiba roda perekonomian Indonesia sudah maju, Indonesia sudah memenangkan dua piala dunia – ternyata sudah Indonesia Emas 2045. 


Tapi yang ingin gue ceritakan dari mereka berdua adalah tentang apa yang terjadi setelahnya. Agar jelas, dari perspektif gue – Kami benar - benar menjalani hubungan. Namun Bagi mereka, gue bukan siapa - siapa. Gue paham. 

Jadi, baik Lia maupun Joni memang tidak memiliki hubungan pacaran resmi di antara kami. Bukan, bukan karena gue cemen (dan laki - laki yang tidak bertanggung jawab). Tentu, gue mau aja pacaran. Namun, Joni dan Lia sempat mengatakan bahwa mereka tidak mau, ataupun boleh berpacaran. Harus fokus pendidikan dulu katanya. Itu, hanya untuk gue ketahui bahwa belakangan  – Mereka jadian (berpacaran) dengan orang yang lain. 


Sekitaran Juli hingga Desember 2015 – Joni

Joni dan gue, kami sudah dekat sekali. Gue tahu kedua orang tuanya. Dia tahu kesatu orang tua gue. Kita selalu menghabiskan waktu bareng di sekolah. Hari - hari kita, tidak pernah tidak bersama. Selalu. Bahkan selalu pergi bareng orang tuanya. 

Di sekolah kita selalu berdiri bersama, di depan kelas 8A bersenderan di pagar menatap banyak mobil yang sedang parkir. Sepulang sekolah, kita menghabiskan malam telponan sampai waktu untuk siap - siap sekolah hampir tiba. Gue juga pernah beberapa kali datang ke rumahnya, bukan untuk memotong rumput di halaman rumahnya, namun untuk menghabiskan waktu bersama Joni.

Gue ingat betul, kita sama - sama sayang. Tidak hanya kita saling ucapkan, tapi semua orang tau bahwa kita memang bersama. Pada saat itu, dunia gue, hanyalah Joni dan Joni saja. 

Namun di suatu saat di tengah hubungan menakjubkan itu, Joni tiba - tiba berubah. Belakangan gue ketahui bahwa Joni pada saat itu, telah menjalin hubungan sama kakak kelas. Kalo enggak salah, keturunan Thailand – Kelihatan dari warna kulit nya yang mirip Kuah Tom Yam. Kita sebut laki - laki ini sebagai Dum Dum – terinspirasi dari teh oranye itu. 

Saat itu gue hancur, hancur sekali. Pada saat itu, datang ke sekolah adalah neraka. Karena gue terjebak di situasi yang memaksa gue untuk menyaksikan kemesraan Joni dan Dum-Dum.  Gue inget banget, gue bilang ke mama gue :

“Alex nggak mau sekolah.”

“Enggak bisa, harus sekolah.” 

Memang, Mama gue sedang mengajarkan ke gue arti kedisiplinan. Namun Ia tidak tahu, diam - diam, dunia anaknya sedang hancur tak bersisa. 

𓅮

Sekitar Desember 2015 – Study Tour – Joni

Sekolah gue pada saat itu melaksanakan agenda dua tahunan sekali, Study Tour. Saat itu kebetulan gue kelas 8 dan berangkat bareng senior kelas 9. Gue inget betul, Study Tour pada saat itu adalah topik yang terus dibicarakan – Joni saat masih bersama gue mengatakan bahwa dia nggak akan ikut Study Tour nanti karena sudah pernah mengikuti event serupa di sekolah sebelumnya. Hingga akhirnya, setelah dia bersama Dum - Dum, Joni ikut event itu. 

Saat itu kami Study Tour ke Bali dan Malang. 

Sisalah gue laki - laki 15 tahun yang merasa nafasnya sudah tidak panjang lagi, harus menyaksikan kemesraan antara Joni dan Dum - Dum di tempat - tempat romantis : 

  1. Di Bali, di Tanah Lot – mereka bermesraan dengan buat tato temporer couple. Sedangkan gue terpojok di bawah pohon sambil gigitin jagung bakar. 

  2. Di Jatim Park, mereka gendong - gendongan. Sedangkan gue sedang berusaha diselamatkan pihak medis agar tidak menjadi santapan hewan buas di sana. Menurut medis, detak Jantung gue menurun tiga poin setiap kali gue melihat kemesraan mereka.

  3. Di Batu Night Spectacular, sebuah atraksi pasar malam di Malang, mereka bersenang - senang, tertawa seakan dunia berakhir besok. Bagi gue, dunia sudah berakhir malam itu. 

𓅮

Sekitar Desember 2021 – Lia

Semua hal menjadi semakin rekat antara gue dan Lia pada bulan Desember 2021. Satu tahun lalu. Kebersamaan yang awalnya adalah tuntutan pekerjaan, semakin menjadi - jadi hingga akhirnya kita menyatakan perasaan satu sama lain. Lia memberi gue bahagia yang tak ternilai besarnya. Gue berani tukar apapun kecuali harga diri gue (karena gue gapunya) untuk mengulang peristiwa itu semua.

Kita sama - sama menyatakan bahwa kita menemukan kebahagiaan di satu sama lainnya. Kita selalu makan bareng, nonton bareng, Lia juga sering tiba - tiba kirim video atau foto wajahnya yang manis, dan kita juga berbicara tentang apapun yang menyenangkan. Seringnya sih, tentang ketimpangan ekonomi antara Lia dan Gue. Lia tumbuh di keluarga yang berkecukupan, Ayahnya seorang direktur – Ibunya seorang Ibu rumah tangga. Sedangkan gue, Ayah gue adalah seorang Almarhum – Ibu gue adalah seorang tenaga pendidik yang termarjinalisasi. Uang sekolah Lia bisa mencapai ratusan juta satu tahunnya, sedangkan uang ratusan juta adalah nominal yang bahkan gue tidak pernah berani membayangkan. 

Sampai akhirnya, sekitar dua-tiga bulan lalu, gue tahu bahwa Lia sedang dekat dengan laki - laki lain. Seorang kakak tingkat juga. 

“Itu siapa” Tanya gue

“Temen” Jawab Lia

Lia awalnya menutupi sosok ini. Namun ia memang mengatakan bahwa Ia sedang menyukai laki - laki lain. Benar - benar, gue sedih sekali. 

“Ada yang ngajak aku makan siang besok di Kantin Kampus, boleh?”

“Kalo aku bilang enggak, pun kamu juga akan pergi”

“Kalo kamu bilang enggak – Aku enggak pergi”

“Terserah”

Gue tidak ingat apakah Lia saat itu jadi benar - benar pergi makan siang atau tidak, seingat gue Iya. 

Gue juga belakangan tahu bahwa selama ini Lia mengunggah banyak chat – chatan bersama cowok itu di story closefriend Instagramnya – yang ternyata, gue telah dikeluarkan dari urutan teman dekat nya.

“Kenapa aku dikeluarin dari Closefriend kamu?”

“Ya Karena aku tahu kamu enggak mau lihat”

Ya… Ya iya sih… 

Kurang lebih dua minggu dari itu kami masih berhubungan meskipun semuanya terasa berbeda. Lia sudah tidak sama lagi. Belakangan, gue dapat kabar dari teman, bahwa Lia dan laki - laki itu telah resmi menjadi sepasang kekasih. 

Seketika kepala gue dipenuhi dengan pertanyaan : 

“Lia,,, Kenapa…”

“Bukannya kamu bilang enggak mau bahkan enggak boleh pacaran dulu…”

“Aku salah apa sama kamu…”

Pertanyaan itu membuat gue tetap terjaga semalaman. Sama sekali tidak bisa tidur. Kepala gue berperang hebat untuk mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Malam itu, atas patah hati yang luar biasa hebat, gue block semua yang ada antara gue dan Lia. Gue putuskan bahwa langkah itu, adalah langkah yang berat namun paling strategis untuk gue lakukan.

Gue lalu sadar, bahwa Lia bukannya engggak mau pacaran. Lia sebenarnya enggak mau pacaran sama gue. Masalahnya ada di gue, bukan di status pacaran itu sendiri. Cowok Lia sekarang, lebih ganteng, wangi, dan lebih bermasa depan ketimbang gue. Menyedihkan.

30 November 2022 – Lia

Hari itu terjadi pembantaian sadis bukan main di Malang. Korbannya bukan babi ngepet ataupun alumni G30S PKI. Yang terluka parah pada saat itu adalah hati seorang manusia (baca : hati gue). Pada 30 November 2022 – Kampus gue ada kunjungan ke landasan udara militer gitu di daerah sekitar Malang. Gue adalah salah satu dari sedikit mahasiswa yang oleh karena kewajiban, ikut pergi ke acara ini. 

Sekitar jam 7 Pagi, gue sampai kampus tempat di mana kami semua bersiap - siap berangkat. 

Sialnya gue harus kebingungan mencari rencana pelarian karena ternyata Lia dan Cowok barunya itu juga ikut. Gue hendak lari tidak jadi pergi – namun kedatangan gue sudah dilihat oleh salah satu dosen pengawas, jika menghilang tiba - tiba akan menimbulkan pertanyaan 

“kemanakah perginya Alexander, mahasiswa ganteng, baik, dan pintar itu?” 

lalu teman gue akan membela “Dia sudah pergi ke tempat yang lebih baik Pak” 

“Meninggal maksudnya?” 

“Iya Pak, hatinya terluka parah.” 

“Semoga ia beristirahat dengan tenang.”

“Amin.”

“Amin.”

Lalu kunjungan ke landasan udara akan berubah ke acara pemakaman gue. 

Gue juga sudah berpikir, bagaimana kalo gue beralasan bahwa gue sakit perut? Tapi kan mentok - mentok disuruh pup “yaudah tuh ada dedaunan dan pasir, silakan.”

Waktu yang mepet, akhirnya gue sudah tidak bisa mengelak lagi. Gue pergi ke acara sialan itu. Gue bergumam di dalam hati “Aku menyerah kali ini, akan aku kalahkan kau semesta di lain waktu!”

Di sana, selain mendapatkan materi, kami berkeliling hangar - hangar pesawat tempur milik TNI AU di mana kami bisa berkeliling, menikmati pesawat tempur dari dekat. Selain itu, kami juga dipersilahkan untuk mengambil foto duduk di dalam pesawat.

Orang - orang di sekitar ngajakin gue ini-itu foto dong, naik dong, tolong rekamin dong – terlihat mereka sangat excited dan bahagia. Gue benar - benar tidak merasakan kebahagiaan yang orang - orang itu rasakan. Di antara keramaian, mewahnya pesawat, gue hanya terfokus pada Lia dan Cowoknya yang menepi sendiri, memisahkan diri dari keramaian untuk menikmati semuanya berdua.

Mereka mengambil gambar, di atas pesawat tempur. Semacam konsep pre-wedding yang orang - orang idamkan. Satu hal lain adalah, ternyata informasi tentang hubungan Lia dan Cowoknya memang sudah kemana - mana. Ketika foto itu sedang diambil semua orang menyoraki – termasuk dosen - dosen.
“Cieeee - cieeeeeeee” 

“Wahh pre wedd nihhh”

Gue hanya diam. Ada yang ngajak gue ngobrol, gue diam. Gue tidak bisa berkata - kata. Sampai akhirnya ada TNI teriak di kuping gue 

“Mas Awas ini ada pesawat mau lewat – Mau tetep diem atau kuping mas non aktif dua minggu?”

Di depan moncong pesawat di mana Lia dan Cowoknya mengambil gambar, ada gue. Gue menyaksikan dengan mata kepala gue sendiri romantisnya mereka. Lia tidak pernah melihat ke arah gue lagi, seakan - akan, gue bukan siapa - siapa di hidupnya. 

Kalo ibarat film Top Gun, mungkin Cowoknya Maverick dan Lia sebagai Penny Benjamin. Gue – gue sebagai cameo Top Gun yang tugasnya sebatas isi bahan bakar pesawat. 

Gue saksikan juga mereka jalan berdua, tentu tertawa - tawa, bercerita ini itu. Gue hanya duduk dan mengamati dari jauh. Bahkan untuk menulis ini, dan mengingat - ngingat semuanya, adalah seperti memotong bawang – pedih sekali. (Ternyata jempol gue juga kepotong). 

Lia terlihat bahagia sekali bersama laki - laki itu, pun laki - laki itu juga sudah sepantasnya berbahagia mendapatkan perempuan secantik Lia. Lalu tinggalah gue – tersenyum sekuat tenaga agar terlihat kuat, lalu menangis di perjalanan pulang karena tidak lagi tahan membohongi diri.

𓅮

Masa Kini – Tentang Joni dan Lia 

Gue enggak pernah menyangka, kejadian yang menimpa gue saat bersama Joni, harus terulang 7 tahun kemudian ketika gue bersama Lia. 

Banyak kesamaan antara Joni dan Lia. 

Bersama keduanya, gue enggak berpacaran sama mereka. Pun kita saling mengucap sayang – menjalani hari bersama - sama, mencari kebahagiaan satu sama lain, dan melakukan hal yang hanya kita yang tahu dan tidak untuk diceritakan ke banyak orang. Lalu dari sini, baik Joni dan Lia tiba - tiba dalam waktu dua minggu telah menjalin hubungan bersama laki - laki lain.

Keduanya sama - sama membela diri – “Kan kita enggak pernah pacaran.” – Ya Benar. Namun Aku kira, enggak pacarannya kita adalah mau kamu – tanpa aku sadari itu adalah langkah preventif untuk pergi ketika bosan. Keduanya juga tiba - tiba jadian sama kaka tingkat. Joni sama kaka kelas 9 dan Lia sama kaka tingkat semester ganjil atas. Keduanya juga membunuh gue melalui kemesraan mereka bersama - sama di tempat umum. Uniknya, semua ini terjadi di Malang. Ternyata, nasib gue juga Malang.


Sampai saat ini, gue hanya tidak pernah tahu, tidak pernah mendapatkan penjelasan, tidak pernah berhenti bertanya - tanya, kenapa mereka harus melakukan itu. 

“Ya pada akhirnya setiap orang berhak bahagia. Itu jalan yang mereka pilih” Ucap teman ketika menasihati gue.

“Iya, tapi bagaimana tentang kebahagiaan gue?” Jawab gue lemas

“Ya lu harus cari kebahagiaan lu sendiri.”

“Tapi waktu itu, kita janji bahagia bareng - bareng.”

“Iya. Enggak semua janji ada untuk ditepati kan.”

Gue terdiam. 

Joni dan Lia – kedua - duanya adalah wanita hebat yang mengisi hidup gue dengan patah hati terhebat pula. Kinerjanya magis. Tanpa banyak ini itu – di hidup gue, mereka adalah, manusia yang kapanpun kembali – akan gue terima. 


Semoga kalian berbahagia, aku pun mau, semoga cepat aku temukan kebahagiaan tersebut. Atas semua kebahagiaan sementara dan kesedihan abadi ini, banyak pelajaran yang bisa gue petik. Joni dan Lia tidak pernah tahu sampai saat ini, tidak ada moment di mana gue tidak menangis mengingat semuanya – semoga mereka juga tidak pernah tahu lagi. Sedikit demi sedikit aku mengawasi kalian, memastikan kalian tetap ada di Bumi, semoga berbahagia selalu. 

Walau pedih 'ku bersamamu kali ini

'Ku masih ingin melihatmu esok hari

Hindia - Evaluasi

𓅮


Read More

Sunday, November 20, 2022

Tanpa ada yang tahu kuambil satu lalu pergi

 Now Playing : Berhenti Berharap - Sheila On 7


Teman - teman gue selalu bilang bahwa, cara paling gampang untuk sembuh dari patah hati adalah dengan mencari hati yang baru. Ini adalah hal yang gue lakukan. 

Namun, sudah hampir dua tahun sejak gue berpisah dengan Min, hati gue, masih belum menemukan orang yang tepat. Sebenarnya orangnya ada, gue pun udah berusaha tepat tepatin, tapi kita sama - sama paham bahwa perkara hati adalah bentuk komitmen dua arah. 


Setelah Min, ada satu fase gue sayang, bahkan cinta banget sama satu orang, namanya Lia. Kita bareng namun tidak untuk beberapa lama, sampai dia ternyata, diam - diam tanpa banyak penjelasan, jadian sama orang lain. Ketika gue tahu tentang itu, gue merasa terpukul. Satu malaman gue habiskan menatap langit - langit kamar, gue ingat betul, saat itu adalah malam yang panjang. 


Temen - temen gue juga selalu bilang bahwa, mendingan sakit hati ketimbang sakit fisik. Untuk beberapa tahun gue tidak percaya dengan hal ini, sampai tanggal 12 Februari 2021 – di hari raya Imlek, ingat betul saat itu gue didandanin oleh Min sebagai harimau sumatera (meskipun jadinya lebih mirip Hell Boy) untuk perlombaan face painting edisi konyen. Entahlah, jangan tanya mengapa dan bagaimana, sekalipun Min punya skill menggambar yang mumpuni, gue rasa, muka gue yang beruntusan ini memang bukanlah kanvas terbaik untuk digambar, konon katanya Beethoven merasa lebih baik gantung diri daripada harus menggambar di wajah gue, ya iyalah ngapain Beethoven melukis? 


Saat itu juga, memang Min lagi semangat - semangatnya belajar make up. Tapi dari hasil yang gue dapatkan, rasanya Min memang bukan sosok yang cocok untuk jadi Make Up Artist, lebih mirip ke perias mayat. 

Akulahhh sang prabuuu, aku bisa menjadii tujuhhhh, 


Tapi  - tapi, hari itu adalah hari di mana untuk pertama kalinya, gue kecelakaan motor. Di antara lumuran darah dan derasnya hujan malam hari, gue yang memohon pertolongan ke nyokap – sumber penghidupan dan cinta sepanjang masa yang gue percayai – justru dikira sebagai penipu minta transfer pulsa (baca selengkapnya di Langit Sedang Bagus !). Kejadian ini menyisakan kaki gue pincang untuk waktu yang tidak sebentar juga banyak teriak - teriakan najong selama proses pengobatan. Hal ini, waktu itu, membuktikan bahwa, rasanya, sakit hati tidak lebih baik daripada sakit fisik. 


Tulisan ini adalah tentang proses penemuan rumah baru bagi hati yang mungkin, baru saja patah. Bisa jadi dipatahkan oleh orang yang disukain, bisa jadi oleh ekspektasi sendiri, bisa jadi memang kepukul tongkat baseball. 


Hari ini tanggal 20 November 2022. Hari Minggu. Surabaya Timur hujan meskipun tidak banyak. Sebenarnya, cerita di mulai di tanggal 19 November 2022. Kemarin, hari Sabtu, ketika langit Surabaya Timur sedang tidak pipis.


Kemarin banget, gue sedang pergi makan bareng atas agenda yang sudah lama kita janjikan bersama - sama. Satu perempuan cantik (banget), baik hati, menginspirasi, pekerja keras, pelayan Tuhan dan teman baik gue, menyatakan perasaannya ke gue. 


Nama perempuan ini, Anton.


Inget banget, dia memesan satu paket cheeseburger dan gue satu porsi fish and chips. 


“Aku mau jujur sama kamu, sebenarnya, sudah tiga atau empat bulan ini, aku suka sama Kamu.”


Gue tertegun. Gue senyum tipis – ada hasrat untuk menjawab 


“Sebenarnya aku suka laki - laki.”


Niat ini gue urungkan mengingat ada pisau tajam di tangan Anton.

Tapi benar, gue benar - benar tertegun dan bingung. 


Anton adalah sosok yang sangat mudah disukai oleh orang – dia punya semuanya, cantik, pintar, pekerja keras, baik hati, tidak neko - neko, bukan perokok, dan gigi nya rapi. 

Namun entah kenapa, gue hanya melihat Anton sebagai teman. 


“Kenapa lu enggak mau sama Anton?” Ucap Christian teman sekosan gue.

“Enggak tahu. Kan emang temen aja.” 

“Tapi kan dia, baik hati, dia enggak aneh - aneh, dia pinter, dia – ya semuanya lah” Kata Christian sambil meninggikan nadanya.

“Iya, tapi elu juga baik hati, enggak aneh - aneh, pinter, – ya semuanya lah” Balas gue ke Christian

Yaudah yuk jadian aja kita  Enggak, maksud gue, gue juga enggak benar - benar tahu, ya temen aja” Tambah gue 


Lalu di malam tanggal 19 itu, gue bilang ke Anton, yang saat ini gue rasa, setelah dipikir - pikir lagi, gue jahat juga sih. 


“Hm… Jujur, saat ini aku lagi sibuk dan enggak memikirkan untuk punya pacar.” Kata gue ke Anton.

“Aku tau kok, aku tau kamu sibuk. Aku tau kamu enggak ada waktu untuk ini. Aku yang manusia bodoh.” 


Gue tebak dan gue rasa, Anton mengucapkan itu sekuat tenaga sambil menahan air mata. 


“Loh enggak gitu, kamu jangan mikir kayak gitu, aku itu –”

“Enggak kok. Gapapa. Aku paham. Aku ngomong ini, aku jujur, karena aku ingin merasa lega. Aku capek nahan ini terus. Aku pengin kamu tahu aja, beneran aku ngomong ini biar aku plong dan enggak ada beban lagi aja, meskipun” Potong Anton


Anton diam beberapa detik sebelum menyelesaikan kalimatnya.


“Meskipun apa?” ketika mengucapkan ini, hati gue, ah… bingung…

“Meskipun ya setelah pulang ini, aku pasti akan sedih lagi sih. Aku tahu kok, people come and go.”


Anton diam, Gue diam.


“Makasih ya kamu udah mau jujur. Hebat banget.” Kata gue memecah keheningan.


Enggak lama dari itu, gue pamit meninggalkan Anton, di restoran itu. Dari kejauhan, sambil berjalan, gue melihat tampak belakang Anton yang duduk tidak bergerak. Mungkin dari depan, Anton sedang menahan air matanya agar tidak menghamburkan rias wajahnya.


Gue paham betul malam itu, gue telah menghancurkan dunia seorang wanita. Di sisi lain, gue juga enggak bisa berusaha menghibur Anton dengan mengada - ngada apa yang gue rasa. Entahlah, gue pun pernah berusaha untuk bisa menyukai Anton – tapi rasanya, ya enggak worked out aja.


Sebelum pergi, Anton menambahkan 


“Satu dua tahun lagi mungkin kamu udah enggak di sini, udah enggak ketemu aku lagi, tapi inget, kapanpun kamu merasa bahwa semuanya di antara kita bisa bekerja, aku ada untuk kamu.” 


Kata - kata ini, menghantui gue sepanjang perjalanan pulang dari restoran…


Semua itu adalah yang terjadi di 19 November 2022. Selanjutnya, adalah apa yang terjadi hari ini : Antara gue dan Fanny. Fanny adalah sosok yang gue taksir dan sedang  pernah gue usahakan hatinya, baca selengkapnya di USAHA ATAS FANNY, MAKHLUK KAMPUS SEBELAH YANG SUKA TERBANG - TERBANG.


Hari ini gue kembali menghubungi Fanny, tapi obrolan kita hari ini tidak banyak, hanya sedikit namun padat dan jelas. 


“Hai Fanny, kamu sibuk malam ini?”


“Hai, Kenapa?”


“Kalo kosong, mau ngajak kamu ngobrol lewat telepon.”


Fanny tidak membalas cukup lama dan kembali dengan jawaban yang menohok.

“Hmm… sebenarnya begini, aku selama ini enggak tahu maksud dan tujuan kamu apa untuk terus menghubungi aku. Aku juga enggak mau ke geeran, tapi aku rasa aku harus bilang ini. Bahwa kalo kamu punya niat untuk ngedeketin aku, aku minta maaf, rasanya kita harus stop berhubungan deh, karena aku enggak mau buat kamu bingung.”


Gue tidak membuka chat itu, tapi gue melihatnya dari sisi luar notifikasi. Cukup lama, untuk gue bisa menerima kenyataan itu. 


Lalu gue jujur ke Fanny, 


“Hmm… Yes, aku ngechat kamu terus karena aku memang ngedeketin kamu kok Fan. Kamu enggak kegeeran. You are entitled to the confusion. Maafin aku ya, aku selalu pengen jujur sama kamu tentang semuanya, justru rencananya hari ini. Maafin aku kalo ada dari aku yang buat kamu enggak nyaman.


May i know why do you think that this relationship will not work out? (terjemahan : Bulan Mei Aku tahu kenapa kamu berpikir hubungan ini tidak akan olahraga?”


“Kamu baik, aku juga nyaman ngobrol sama kamu. Tapi ya gitu, perasaan aku ke kamu, ya enggak lebih dari sekedar temen aja.”


“Paham kok. Yasudah, yang terbaik semuanya untuk kamu dan keluarga ya, semoga mama dan Papa sehat terus. Selamat malam, Fanny”


Fanny hanya merespon dengan 👍


Dalam hati gue, secara otomatis, ada perasaan yang menggugah gue untuk berkata 

“BANGSAT  Kapan pun kita ketemu lagi dan kamu berubah pikiran, aku bakal ada untuk kamu”  Hal yang sama diucapkan oleh Anton ke gue. 


Sisalah gue di sini. Di pojok kota Surabaya Timur. Malam - malam dan sedang berusaha merangka ulang apa yang baru saja terjadi, penolakan yang hampir membunuh gue.


Dua hari belakangan ini, gue belajar banyak. Bahwa ternyata, kejujuran itu penting – kejujuran yang bahkan dikatakan pahit itu justru hadir untuk menghalangi luka yang lebih dalam. Dua wanita, Fanny dan Anton (duh kenapa sih namanya Anton), adalah wanita hebat yang berani berkata apa adanya dengan yang dirasakan. Kejujuran dari dua duanya, mampu mematahkan hati seseorang, namun di waktu yang bersama, memberi efek lepas pula. 


Gue juga belajar bahwa terkadang, orang yang kita sukai, enggak suka sama kita, bukan karena alasan apapun. Bukan karena fisik, status, kepintaran, materi, immateriil, hukum acara pidana, dan asdkasdkasjdjas. Intinya, kadang ya… orang yang kita suka pun, belum tentu tahu secara pasti, kenapa dia tidak suka sama kita. 


Fanny sebenarnya menambahkan “Perasaan ku ke kamu ya enggak lebih dari teman… Aku not sure kalo kamu paham sih,, tapi ya gitu”. Jujur, gue paham banget. Atas apa yang terjadi antara Anton, Fanny dan gue, semuanya cukup menjelaskan. Alasan kenapa Fanny tidak suka sama gue, adalah alasan yang sama kenapa gue enggak sama Anton (bukan karena Anton adalah pria). 


Kadang, kita disukain sama orang yang kita enggak suka, di saat yang bersamaan, kita mencintai orang, yang juga enggak mencintai kita. Saat ini, gue membenamkan diri ke kasur yang empuk. Mencoba menikmati dan merangka semua hal - hal kecil yang terjadi di sekitar gue. 


Akuu pulangg, tanpa dendam, kuterimaaaa kekalaaaahaannkuuuu - Berhenti Berharap, Sheila on 7


Malam ini, akan menjadi malam yang panjang.


𓅮

Read More

Sunday, November 13, 2022

Usaha atas Fanny, makhluk kampus sebelah yang suka terbang - terbang.

Tentang Fanny

Tulisan kali ini, adalah tentang perempuan bernama Fanny. Seorang wanita (yang tentunya) cantik, pintar, manis, tinggi dan bukan berkebangsaan Mexico – Ya Iyalah. 

Gue dan Fanny dipertemukan atas dasar keinginan kami yang sama - sama ingin studi ke luar negeri. Kita datang ke event yang sama, lalu berkenalan, dan menjadi dekat (Maksudnya, gue lagi deketin dia). 


Kita sebaya dan sama - sama tinggal di Surabaya saat ini. Gue fokus kuliah caranya kabur dari hukum, sedangkan Fanny belajar bagaimana olahan angka, huruf dan variable asing dapat membantu perkembangan dunia ini. Pun begitu, Kita tidak datang dari “Kampus” yang sama, membuat kami berdua tidak sering berjumpa. 


Seperti biasa, Fanny, sosok yang gue taksir, adalah sosok yang secara logika manapun, tidak mungkin suka balik sama gue. Maksud gue, Dia cantik–Gue buruk rupa, Dia pinter-Gue juga sih (abaikan yang ini), Dia fluent bahasa Korea–Gue cuma tau 음경 (ini artinya titit, spesifik gue pelajari untuk ngatain temen gue yang perilakunya seperti kelamin), Dia Kaya–Gue… ah sudahlah.


Penting juga untuk digarisbawahi bahwa Fanny, rasa - rasanya, lebih tinggi dari gue. Beneran. Pun kalo tinggi kita sama, tetep aja, ini akan berdampak buruk bagi image gue ketika pergi bareng Fanny, orang - orang di Mall akan mengatakan : 


“Malang sekali perempuan itu, berjalan bersama copet.”


Atau mungkin ada skenario di mana kita makan bareng di Marugame, menimbulkan persepsi : 


“Lihat, baik sekali majikan itu, pembantunya pun diberikan makan, meskipun cuma kriuk - kriuknya saja”. 


Tapi di antara semua langit-bumi di atas, ada beberapa hal yang penting, yang membuat gue, tetap suka sama Fanny – dan akan terus memperjuangkan hatinya.


Pertama, Fanny cantik banget, rambutnya wangi es coklat, kalungnya membuat Fanny terlihat lebih anggun, juga cincinnya yang gue rasa cukup untuk membiayai hidup gue tiga bulan. 

Kedua, Gue sama Fanny punya keinginan yang sama untuk belajar ke luar negeri. Kita sudah berencana untuk bersama - sama mendaftar dan mengurus administrasi ke beberapa beasiswa yang ada. Hal ini penting, setidaknya gue tahu, Fanny adalah sosok yang pintar dan ambisius, punya mimpi, sama seperti gue.


Ketiga, Gue dan Fanny sama - sama punya minat yang sama. Fanny suka basket, gue juga. Fanny bukan pemain, Fanny lebih suka nonton (Dulu SMA jadi dancer di UBS Gold DBL itu loh!), Gue, meskipun suka main, tapi keterbatasan skill sering kali menjadi penghambat kerennya gue di lapangan. Tapi initnya, ya gitu ! kita sama - sama suka basket, nggak cuma dari permainan, tapi kita juga sama sama suka analisis yang terjadi di luar lapangan dan bagaimana sport industry harusnya bisa lebih integrated ke dunia pendidikan, misalnya dalam penghargaan lebih terhadap student-athlete di sekolah - sekolah Indonesia. Bagian ini harus gue hentikan, sebelum tulisan ini menjadi artikel ilmiah. 


Keempat, Kelima, Keenam, dan seterusnya, adalah alasan - alasan yang gue temukan secara sengaja maupun tidak, yang pada intinya, gue suka sama Fanny tanpa ada alasan yang berbelit, dan memang, sesederhana, gue suka sama Fanny aja. 


Yang sudah - sudah bersama Fanny 


Nah, sejauh ini, usaha gue untuk mendekati Fanny sedang berada di fase yang membingungkan. Gini, gini…


Gue sudah berhubungan dengan Fanny (hampir setiap hari), enggak cuma dalam bentuk text, tapi biasanya juga, kami telepon suara ataupun telepon video. Biasanya sih, dilakukan ketika Fanny lagi nyetir pulang ke rumahnya yang jarak nya satu jam dari kampus. Lucu ya? Romantis ya? Semoga Iya :D 

Tentu, bagi gue, satu jam telepon sama Fanny adalah pembangkit hari - hari yang berat. Biasanya sore - sore, hari yang letih dan menyebalkan, tiba - tiba, secara magis, hilang ketika gue denger suara Fanny.


Apalagi saat itu, ketika di awal - awal telepon, gue memberanikan diri bertanya ke Fanny ketika ia hampir tiba di tujuannya : 


“Aku udah mau sampe nih, udahan dulu ya.”

“Hmm.. boleh gak kalo aku liat kamu dulu” (Ini jantung gue udah deg - degan)

“Video Call maksudnya?”

“Iya…” (Sudah pipis sedikit)

“Boleh kok, video call aja”

Duarrrrrrr, hati gue, joged poco - poco.

*Video Call

“Rambut kamu bagus banget hari ini” (Ya ini gue yang ngomong dong, masa iya dia Muji rambut gue yang bau busuk ini)

“Hah apaan si, tiap hari juga kayak gini” 

“Iya berarti kan rambut kamu bagus tiap hari.”


Aldkjsalkdjaskldjaskldjasldkjsaasdlkjasldksadjsa


Pembicaraan telepon itu akan gue hentikan sampai di situ, sebelum sifat kebuayaan dan kereptiliaan gue serta trik trik gue lainnya terbongkar hehe.


Tapi gitu, kita udah beberapa kali telpon. 


Selain itu, kami juga sudah dua kali meet up. Yang pertama, gue dateng ke kampusnya setelah Fanny selesai kelas. Sore - sore, kita makan bareng sambil jalan - jalan, Fanny ngajak gue keliling kampusnya yang jauh lebih besar dari kampus gue. Pertemuan kedua, kita sama - sama makan di restoran burger, Dia duduk sebelah gue. Dia juga cicip burger pesenan gue. 


Nah, hal - hal kecil seperti ini, yang gue anggap magis dan luar biasa. Bagi Fanny, mungkin, hal sederhana tersebut bukan apa - apa, hal lumrah yang dilakukan oleh sepasang teman. Bagi gue, tentunya tidak. Pulang dari restoran burger itu, kepala gue dipenuhi oleh Fanny. Cantiknya dia hari itu, sepatu hitam-abu-oranye nya, dan pembicaraan kita waktu itu, yang semakin membuat gue yakin bahwa gue sedang tidak mencintai orang yang salah. 


Jujur, gue juga belum tahu apakah gue mencintai Fanny, tentu bukan karena gue enggak tertarik sama Fanny (justru suka banget), tapi ya karena gue paham, bahwa Gue maupun Fannny, butuh waktu untuk menumbuhkan persaaan itu. Tapi yang pasti saat ini, gue ingin hari - hari gue bersama Fanny. 


Selain itu, kami juga ada membuat janji untuk nonton bisokop bareng ketika waktu memungkinkan. (Kalo beneran kejadian, ataupun enggak, akan gue ceritakan di sini hehe). Gue harap, tentunya, jadi.


Nah, semua hal ini tentu memberikan kesan bahwa, wahhhh Zayn Malik (Gue) udah sama Fanny nih. Jawabannya, jujur, belum (dan bisa jadi enggak). Karena, terlepas dari apa yang gue dan Fanny telah lewati, Fanny adalah sosok yang dingin di chat.


Fanny balas gue, most of the time, pendek - pendek, sepatah dua patah kata, gak jarang juga banyak bubble chat gue yang terlewatkan. Selain itu, kadang gue temukan bahwa Fanny sedang online, tapi tidak membalas. Fanny pun, rasanya, menghindari pembicaraan - pembicaraan yang memungkinkan kita bisa bersama. Fanny pun, tidak pernah membalas pesan yang gue kirim di tempat lain (Misalnya gue kirim postingan Instagram yang lucu)


Jujur, gue enggak benar - benar tahu apa yang ada di dalam hati Fanny. Bisa jadi, semua skenario ini adalah halusinasi gue, yang mungkin, secara fakta memang benar terjadi – tapi sebenarnya tidak ada apa - apa di dalamnya. Senyum – senyum sendirinya gue tiap kali setelah telepon atau bertemu sama Fanny, bisa jadi, hanya gue yang merasakan.


Fanny adalah sosok yang membingungkan, pun begitu, akan gue kejar terus, beratnya, ringannya, senangnya serta sedihnya, juga dinginnya, adalah apa yang membuat seorang Fanny, ya seorang Fanny. 


Mungkin dia suka, mungkin juga enggak, tapi yang penting, Fanny saat ini, belum meminta gue untuk berhenti. Atas dasar sedikit kepercayaan dan Iman seadanya ini, gue berjalan. 


Fanny, seharusnya, enggak tahu gue menulis ini. Gue juga enggak ada rencana jauh - jauh hari ingin menulis ini, tapi ya here I am. Karena galau dan bertanya - tanya, apa yang sebenarnya terjadi. 



Yang jika benar, apa yang terjadi di antara kita adalah benar adanya, dan kamu pun merasakan yang sama, harus kuakui, hal tersebut adalah fenomena yang mendekati keajaiban. Melihatmu dari apa yang tampak oleh mata menghasilkan perasaan yang turun ke hati, lalu dari situ, aku harap, tidak kembali naik menjadi air mata. Aku akan usahakan kamu, jika ada yang membuatmu tidak nyaman, mohon diberitahu.










 


Read More